CARILAH ILMU KENEGRI CINA."Maksud sabda Nabi Saw. 'Walaupun ke negeri Cina' itu adalah kata-kata kiasan sebagai dorongan agar mau mencarinya walaupun mendapat kerepotan." (Kitab Hasyiyah As-Sirajul Munir, Juz I, halaman 231)

Kamis, 27 November 2014

Nasip Manusia Telah Di Tetapkan



الحـديث الرابـع

HADITS KEEMPAT


عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا                              
[رواه البخاري ومسلم]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1.     Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.
2.     Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
3.     Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).
4.     Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.
5.     Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.
6.     Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
7.     Sebagian ulama dan orang bijak berkata  bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.

Rabu, 26 November 2014

Sebab-sebab Fitnah Kubur

Jika ditanyakan, apa yang menjerumuskan para penyembah kuburan kepada fitnah kuburan, padahal mereka mengetahui orang-orang yang ada di dalamnya telah mati, tidak bisa memberikan madharat atau manfaat sama sekali kepada mereka, juga tidak kematian, kehidupan dan kebangkitan?

Maka jawabnya adalah, sebab-sebab yang menjerumuskan mereka kepada hal tersebut adalah:

1. Kebodohan terhadap hakikat apa yang dengannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah, juga segenap rasul, dari realiasi tauhid dan memangkas sebab-sebab syirik. Karena itu, bagian mereka dalam hal tersebut sangat sedikit. Lalu syetan menyeru mereka kepada fitnah pada saat mereka tidak memiliki ilmu yang bisa membatalkan ajakannya, sehingga ia memenuhi ajakan syetan tersebut sebesar kebodohan yang ada pada dirinya, dan mereka dijaga daripadanya sesuai dengan ilmu yang mereka miliki.

2. Hadits-hadits dusta yang bermacam-macam yang dibuat oleh orang-orang sejenis para penyembah berhala, yakni al-quburiyyun (penyembah kuburan) atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bertentangan dengan agama-Nya dan apa yang beliau bawa. Seperti hadits,

“Jika kamu dilelahkan oleh berbagai perkara, maka hendaklah kamu meminta (dibebaskan darinya) kepada para penghuni kubur.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya At-Tawassul berkata, “Hadits ini dusta dan diada-adakan atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menurut ijma’ orang-orang yang mengetahui tentang hadits beliau, dan tak seorang pun ulama yang meriwayatkan hadits demikian, juga tidak ada dalam kitab-kitab hadits yang diakui.” Juga hadits,

“Jika salah seorang dari kamu berprasangka baik terhadap batu, niscaya ia memberi manfaat baginya.” 1)

Serta hadits-hadits sejenis yang bertentangan dengan agama Islam, yang dibikin oleh orang-orang musyrik, yang dengannya mereka mengharapkan kesesatan orang-orang bodoh seperti mereka. Sedangkan Allah mengutus Rasul-Nya agar membunuh orang yang berprasangka baik kepada batu-batu, serta menjauhkan umatnya dari fitnah kubur dengan berbagai jalannya.

3. Kisah-kisah yang diceritakan kepada mereka tentang kuburan, misalnya: Si Fulan meminta pertolongan ke kuburan anu agar dibebaskan dari kesulitan, lalu ia dikabulkan. Si Fulan berdoa kepadanya atau menjadikannya sebagai perantara dalam doa untuk suatu keperluan, lalu permohonannya diluluskan. Si Fulan ditimpa musibah, lalu memohon kepada penghuni kubur tersebut, maka musibah itu pun dihilangkan daripadanya. Serta cerita-cerita lain yang banyak dimiliki oleh juru kunci makam atau al-quburiyyun yang akan panjang jika dimuat di sini. Dan mereka adalah orang yang paling ahli berdusta dari segenap makhluk Allah, baik terhadap yang hidup maupun yang mat!

Dan jiwa manusia senangjika keperluannya dipenuhi serta musibahnya dihilangkan. Lalu ia pun mendengar bahwa kuburan si Fulan telah terbukti, sedang syetan memiliki ajakan yang amat lembut sekali. Karena itu, pertama kali ia (hanya) mengajak berdoa di kuburan. Maka, hamba ini pun berdoa di kuburan dengan segenap hatinya, khusyu’ dan menghinakan diri. Lalu Allah mengabulkan doanya karena ketulusan hatinya, tidak karena ia berdoa di kuburan. Sebab, jika ia berdoa dengan ketulusan yang sama di kedai-kedai, tempat-tempat minuman keras, kamar mandi dan di pasar, niscaya Allah mengabulkannya. Tetapi, orang yang bodoh mengira, kuburan itulah yang mempunyai pengaruh sehingga doanya dikabulkan, 2) padahal Allah mengabulkan doa orang yang sangat membutuhkan, meskipun ia seorang kafir. Allah befirman,

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golo-
ngan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemu-
rahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (Al-Israa': 20).
Dan Al-Khalil (Ibrahim) Alaihis-Salam berkata,

“Dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang
beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-
Baqarah: 126). Dan Allah befirman,

“Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara,
kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-
buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah: 126).

Jadi, tidak setiap orang yang dikabulkan doanya berarti Allah meridhai, cinta dan merelakan perbuatannya. Sebab Allah mengabulkan doa orang baik dan orang jahat, orang Mukmin dan orang kafir. Dan banyak orang yang berdoa, tetapi melampaui batas, atau memberi syarat dalam doanya, atau meminta sesuatu yang tidak boleh untuk diminta, tetapi semua itu atau sebagiannya dikabulkan. Lalu, serta-merta ia mengira bahwa perbuatannya itu adalah baik dan diridhai Allah. Orang semacam ini sama dengan orang yang dikaruniai banyak harta dan anak, dan ia mengira bahwa Allah menyegerakan baginya dalam kebaikan, padahal Allah befirman,

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan
kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan
untuk mereka.” (Al-An’am: 44).

Maksudnya, dengan tipu dayanya yang lembut, syetan menjadikan berdoa di kuburan sebagai sesuatu yang baik, dan bahwa berdoa di dalamnya lebih baik daripada berdoa di rumah, di masjid atau di waktu menjelang fajar. Lalu, jika hal itu telah melekat pada mereka, ia pindah menggoda ke derajat yang lebih tinggi; yakni dari berdoa di kuburan menjadi berdoa dengan menjadikan orang yang ada di dalam kuburan sebagai perantara, serta bersumpah kepada Allah dengan namanya. Dan yang terakhir ini tentu lebih besar (bahayanya) daripada yang sebelumnya, sebab Allah sungguh sangat agung untuk disumpahi, atau diminta dengan perantara salah satu dari makhluk-Nya, para ulama Islam telah mengingkari hal demikian.

Abul Husain Al-Qudur dalam penjelasan Kitabul Karkhi berkata, “Bisyr bin Al-Walid berkata, ‘Aku mendengar Abu Yusuf berkata, ‘Abu Hanifah berkata, Tidak sepatutnya bagi seseorang meminta kepada Allah kecuali dengan-Nya pula.’ Ia juga berkata, ‘Aku benci jika dikatakan, ‘Aku memohon dengan tempat keagungan dari Arasy-Mu.’ Aku juga benci jika dikatakan, ‘Dengan hak Fulan, dan dengan hak para nabi dan Rasul-Mu, dan dengan hak Baitul Haram (aku meminta kepada-Mu)’.”

Abul Husain berkata, “Adapun memohon kepada Allah dengan selain Allah, maka hal itu adalah mungkar, sebab tidak ada hak bagi selain Allah atas-Nya. Sebaliknya, yang ada adalah hak Allah atas para makhluk-Nya. Adapun ucapan, ‘Dengan tempat keagungan dari Arasy-Mu, maka Abu Hanifah menghukuminya makruh, sedang Abu Yusuf memberikan rukhshah (keringanan) di dalamnya’.”

Abul Hasan berkata, “Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa demikian. 3) Lalu ia memberi alasan, ‘Sebab tempat keagungan Arasy yang dimaksudkan adalah kekuatan yang diciptakan Allah terhadap Arasy, dengan segala keagungannya, maka ia seakan-akan meminta kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya’.”

Ibnu Baldaji dalam Syarhul Mukhtar’ 4) berkata, “Adalah makruh berdoa kepada Allah kecuali dengan-Nya. Karena itu seseorang tidak boleh mengatakan, ‘Aku memohon kepada-Mu dengan (hak) si Fulan, atau malaikat-malaikat-Mu, atau nabi-nabi-Mu atau yang sejenisnya. Sebab tidak adahak bagi makhluk atas Al-Khalik (Pencipta). Juga tidak boleh mengatakan dalam doanya, ‘Aku memohon kepada-Mu dengan tempat keagungan dari Arasy-Mu. Tetapi Abu Yusuf membolehkan hal ini’.”

Adapun apa yang dikatakan oleh Abu Hanifah dan para sahabatnya, ini adalah makruh, menurut Muhammad itu adalah haram, sedangkan menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf, ia lebih dekat kepada yang haram, bahkan keharamannya itulah yang lebih banyak. 5)

Dalam Fatawa 6) Abu Muhammad bin Abdissalam disebutkan, “Bahwasanya tidak dibolehkan meminta kepada Allah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, tidak para nabi atau yang lain, tetapi ia tak berkomentar saat meminta dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena dia meyakini bahwa hal itu ada di dalam hadits, dan ia tidak mengetahui seberapa jauh ke-shahih-m hadits itu.” 7)

Jika syetan telah berhasil meyakinkan bahwa bersumpah kepada Allah dengannya (penghuni kubur) dan berdoa melaluinya lebih merupakan pengagungan dan pemuliaan kepadanya, dan lebih manjur untuk meluluskan hajatnya maka syetan berpindah pada tipu daya yang lain, yakni (mengajak) meminta langsung kepada penghuni kubur itu selain dari Allah, selanjutnya ia beranjak ke derajat yang lain yaitu menjadikan kuburan orang tersebut sebagai berhala yang disembah, dijadikannya sebagai tempat i’tikaf, dinyalakannya lampu di atasnya, digantungkan padanya tirai/hijab kemudian dibangun di atasnya tempat ibadah. Maka ia pun menyembah dan bersujud padanya, thawaf mengelilinginya, mencium dan mengusapnya, haji kepadanya, serta memotong sembelihan di sisinya. Lalu syetan berpindah ke tingkat lain yaitu mengajak manusia untuk menyembah kuburan tersebut, menjadikannya sebagai tempat perayaan dan acara ritual/ibadah, serta (meyakinkan) bahwa itulah yang lebih bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Syaikh kami Ibnu Taimiyah -semoga Allah menyucikan ruhnya berkata, “Perkara-perkara bid’ah di kuburan ada beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling jauh dari syariat yaitu ia meminta kebutuhannya kepada si mayit dan meminta pertolongannya, dan itulah yang justru dilakukan oleh banyak orang.” Beliau lalu berkata, “Mereka itu termasuk jenis orang-orang penyembah berhala. Karena itu, kadang-kadang syetan menyamar rupa si mayit, atau orang yang gaib, sebagaimana ia juga menyamar kepada para penyembah berhala. Dan ini terjadi pada orang-orang kafir dari golongan mereka yang musyrik dan Ahlul Kitab. Seseorang dari mereka meminta kepada orang yang ia agungkan, lalu kadang-kadang syetan datang menyamarnya, bahkan terkadang ia membisiki mereka dengan sebagian perkara-perkara gaib, juga agar bersujud kepada kuburan, mengusap dan menciumnya.

Tingkatan kedua yaitu ia meminta kepada Allah melalui perantaraan dirinya. Dan ini banyak dilakukan oleh orang-orang kemudian. Padahal ia menurut kesepakatan kaum Muslimin sebagai perbuatan bid’ah.

Tingkatan ketiga yaitu ia meminta kepada diri orang tersebut.

Tingkatan keempat, ia mengira bahwa berdoa di kuburan orang tersebut adalah mustajab, atau bahwa berdoa di kuburan lebih utama daripada berdoa di masjid, sehingga ia menjadikannya sebagai tujuan ziarahnya, shalat di sisinya untuk meminta hajat dan keperluannya. Hal ini juga merupakan kemungkaran dan bid’ah menurut kesepakatan umat Islam, dan yang jelas ia adalah haram. Dan saya tidak pernah mengetahui para imam agama berselisih paham dalam masalah ini, meskipun banyak orang-orang kemudian yang melakukan hal tersebut, seraya berkata, ‘Kuburan si Fulan itu telah terbukti!’

Adapun cerita yang dinukilkan dari Syafi’i, bahwasanya beliau menyengaja berdoa di kuburan Abu Hanifah adalah suatu dusta yang nyata.” 8)

Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

1) Dinukil oleh As-Sakhawi dalam Al-Maqashidul Hasanah (no. 883) dari Syaikhul Islam bahwasanya ia adalah dusta, kemudian dari syaikhnya, Al-Hafizh Ibnu Hajar, beliau berkata, hadits itu tidak punya asal. Lihat pula Tadzkiratul Maudhu’at (hal. 286) oleh Al-Futtani Al-Hindi, Tanzihusy Syari’ah (2/316) dan Al-Asrarul Ma’rufah (496).
2) Di sini kita mendapatkan pelajaran berharga yang mengungkap hakikat apa yang Anda lihat dalam beberapa kitab Tarajum (Biografi) tentang ucapan mereka, “Berdoa di kuburannya adalah makbul.”
3) Hadits ini adalah maudhu’ (palsu), seperti dapat Anda lihat dalam Nashbur Rayah (4/272), Al-Maudhu’at (2/U2),At-Tawassul (hal. 49) oleh Syaikh kami Al-Albani.
4) Bandingkan dengan Al-Fatawa Al-Hindiyah (5/280).
5) Ithafus Sadah Al-Muttaqin, (2/285) oleh Az-Zubaidi
6) (hal. 127).
7) Yang dimaksud adalah hadits tentang tawassul-nya orang buta. Lihat teks dan takhrijhadits ini secara lebih luas dalam risalah saya Kasyful Mutawari min Talbiyaitil Ghumari, risalah ini dikarang atas dasar hadits tersebut, dicetak oleh Dar Ibnul Jauzi, Dammam.
8) Diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Tarikh-nya (1/123). Al-Kautsari dalam Maqalat-nya (hal. 381) menduga bahwa sanad-nya adalah shahih. Ini adalah dugaan batil. Lihat bantahannya dalam Silsilatul Ahadits Adh-Dha’ifah (1/31), Iqtidha’ Shirathal Mustaqim (hal. 165).

Selasa, 25 November 2014

Rukun Islam


الحـديث الثالث

HADITS KETIGA

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.
[رواه الترمذي ومسلم ]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.
(Riwayat Turmuzi dan Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyamakan Islam dengan bangunan yang kokoh dan tegak diatas tiang-tiang yang mantap.
Pernyataan tentang keesaan Allah dan keberadaannya, membenarkan kenabian Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam,  merupakan hal yang paling mendasar dibanding rukun-rukun yang lainnya.
Selalu menegakkan shalat dan menunaikannya secara sempurna dengan syarat rukunnya, adab-adabnya dan sunnah-sunnahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim yaitu meninggalkan perbuatan keji dan munkar karena shalat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.
Wajib mengeluarkan zakat dari harta orang kaya yang syarat-syarat wajibnya zakat sudah ada pada mereka lalu memberikannya kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.
Wajibnya menunaikan ibadah haji dan puasa (Ramadhan) bagi setiap muslim.
Adanya keterkaitan rukun Islam satu sama lain. Siapa yang mengingkarinya maka dia bukan seorang muslim berdasarkan ijma’.
Nash diatas menunjukkan bahwa rukun Islam ada lima, dan masih banyak lagi perkara lain yang penting dalam Islam yang tidak ditunjukkan dalam hadits.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“ Iman itu terdapat tujuh puluh lebih cabang “
Islam adalah aqidah dan amal perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal .

Senin, 24 November 2014

Iman, Islam, dan Ihsan


الحـديث الثاني

HADITS KEDUA


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .  
[رواه مسلم]

Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)

Catatan :
Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi  pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.
Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.
Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“,  dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.
Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.
Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.
Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.
Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.
Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.


Minggu, 23 November 2014

Kehidupan Ini adalah Sementara

Dari Abdullah bin Mas’ud z, beliau menceritakan bahwa Rasulullah ` tidur di atas tikarnya. Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia.Parashahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].

Hadits yang mulia di atas adalah hadits yang shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani t di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi. Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahih beliau, namun dari shahabat yang berbeda, Umar bin Al-Khaththab z. Umar bin Al-Khaththab z menyampaikan kisahnya, “Aku masuk menemui Rasulullah ` dalam keadaan beliau berada di atas tikar. Aku pun duduk dan beliau menurunkan pakaian atas beliau, beliau tidak memiliki yang selainnya. Ternyata, tikar tersebut telah membuat bekas pada lambung beliau. Aku melihat dengan mata kepalaku ke dalam lemari Rasulullah `, ternyata di dalamnya hanya ada sedikit tepung hampir satu sha’ dan ada sejenis daun untuk menyamak kulit dengan jumlah yang hampir sama di pojok kamar, juga ada kulit baru disamak yang tergantung. Aku pun menangis. Rasulullah ` bertanya, ‘Wahai Ibnul Khaththab, mengapa engkau menangis?’ Aku katakan, ‘Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, padahal tikar ini telah membekas di lambungmu. Dan dalam lemari ini, aku tidak melihat kecuali yang aku lihat. Padahal, di sana Kaisar (penguasa Romawi) dan Kisra (penguasa Persia) berada di tengah-tengah buah-buahan dan sungai (yakni kemewahan). Dan engkau adalah utusan dan pilihan Allah l, begini isi lemari engkau?’ Rasulullah ` pun bersabda, ‘Wahai Ibnul Khaththab, tidakkah engkau ridha akhirat bagi kita sedang bagi mereka hanya dunia?’” [H.R. Muslim].

Dari hadits yang mulia ini tercerminlah sebuah pribadi yang mulia, pribadi yang telah dipuji dari atas langit yang ketujuh, “Dan sungguh engkau berada di atas akhlak yang agung.” [Q.S. Al-Qalam:4]. Inilah salah satu akhlak beliau: zuhud terhadap silaunya gemerlap dunia. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh mencari rezeki sama sekali. Namun, beliau mencari rezeki yang halal dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan. Bahkan, justru harta beliau diarahkan untuk dakwah dan berderma.

Dengan hadits ini tercermin pula bahwa kemuliaan seseorang tidaklah diukur dari banyaknya materi yang dimiliki. Namun, kemuliaan diukur dari apa yang ada di dalam hati yakni ketakwaan. Tidakkah kita mendengar firman Allah l yang artinya, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling takwa.” [Q.S. Al-Hujurat:13].

Inilah timbangan kemuliaan yang sejati, bukan harta benda.
n, seperti: membayar zakat, menunaikan kewajiban nafkah, membantu orang yang kesulitan, dan segala bentuk ibadah harta. Jika tidak dikaruniai, dia pun masih bisa menggapai kemuliaan itu dengan cara yang lain, dengan tenaga, pikiran, dan segala hal yang dia mampu.

Hadits ini juga mengingatkan kita bahwasanya dunia ini hanyalah sesuatu yang sementara. Kita di dunia ini tak lebih dari singgah saja. Tak heran, Rasulullah ` pernah mewasiatkan dalam sebuah hadits yang artinya, “Jadilah engkau di dunia ini layaknya seorang asing atau penyeberang jalan.” [H.R. Al-Bukhari dari Ibnu Umar c].

Maka dari itu, hendaknya kita berbekal untuk kehidupan kekal kita, bukan menyia-nyiakan waktu kita di dunia ini. Hendaknya, apa yang kita miliki di dunia ini kita jadikan sebagai sarana untuk mencari kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Allah l berfirman yang artinya, “Dan carilah dari apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat…” [Q.S. Al-Qashash:77]. Ibnu Umar c juga pernah berwasiat, “Jika engkau berada pada sore hari, jangan tunggu paginya, jika engkau pada pagi hari, jangan tunggu sorenya. Ambillah dari masa sehatmu untuk masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” Allahu a’lam bish shawab. (Abdurrahman).

Sumber : http://tashfiyah.net/2012/01/kehidupan-ini-adalah-sementara/

Sabtu, 22 November 2014

PERCAYA PENUH KEPADA ALLAH, TIDAK TAKLUK KEPADA BAYANGAN BURUK


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Jika hati seseorang bersandar dan bertawaqal kepada Allah, tidak takluk kepada bayang-bayang buruk dan tidak pula dikuasai oleh khayalan-khayalan buruk, sedang ia percaya penuh kepada Allah dan mendambakan karuniaNya, maka dengan itu segala kegelisahan dan kegundahan akan tertangkis, sejumlah penyakit luar maupun dalam akan hilang darinya, dan akan tercipta di hatinya kekuatan, kelapangan dan kegembiraan yang tak mungkin terungkapkan olah kata.

Berapa banyak rumah sakit dipenuhi oleh penderita akibat bayang-bayang dan khayalan-khayalan rusak. Berapa banyak hal ini meninggalkan efek buruk di hati kebanyakan orang yang kuat, lebih-lebih yang lemah. Berapa banyak ia mengakibatkan kedunguan dan sakit jiwa.

Orang yang sejahtera lahir dan batin adalah orang yang dapat disejahterakan dan dikarunia taufiq oleh Allah untuk dapat menekan jiwanya dalam rangka meraih sarana-sarana yang bermanfaat lagi mampu mengukuhkan hatinya dan mengusir keguncangan.

Allah berfirman.

“Artinya : Barangsiapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya” [Ath-Thalaq : 3]

Yakni mencukupi segala yang dibutuhkannya baik dalam kehidupan religinya ataupun urusan duniawinya.

Maka orang yang bertawaqal kepada Allah, ia berhati kuat, tidak terpengaruh oleh bayang-bayang buruk dan tidak pula terguncang oleh peristiwa-peristiwa pahit. Karena, ia mengetahui bahwa yang demikian itu adalah tanda kelemahan jiwa dan kekalahan serta ketakutan yang tidak ada wujudnya yang nyata. Ia mengetahui, di samping itu, bahwa Allah telah menjamin orang yang bertawaqal kepadaNya untuk dicukupiNya dengan sempurna. Maka, iapun percaya penuh kepada Allah, tenteram dan yakin dengan janjiNya. Dengan itu, sirnalah kegelisahan dan keguncangannya. Kesulitan yang dihadapinya berganti menjadi kemudahan, kesedihan berganti menjadi kegembiraan, dan rasa takut serta kekhawatirannya berganti menjadi rasa aman dan tenteram. Kita memohon kepada Allah, semoga Dia mengaruniai kita kesejahteraan, kekuatan dan keteguhan hati, dengan lantaran tawaqal sepenuhnya kepadaNya, yang dengan itu Allah menjamin bagi orang-orang yang bertawaqal segala kebaikan dan menangkis segala cobaan maupun marabahaya.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Jumat, 21 November 2014

PANDANGLAH KEBAWAH, ANDA AKAN MELIHAT BESARNYA NI’MAT ALLAH.


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Di antara sarana yang paling bermanfaat dalam hal ini adalah menerapkan yang dibimbingkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam hadits shahih, beliau bersabda.

“Artinya : Pandanglah orang yang lebih bawah darimu (dalam hal materi), dan jangan kamu pandang orang yang lebih atas darimu. Hal itu lebih cocok bagimu, agar kamu tidak merendahkan ni’mat Allah yang dikaruniakanNya kepadamu”.

Seorang hamba jika memusatkan perhatiannya pada ajaran nabawi yang agung ini, maka ia akan melihat dirinya mengungguli orang banyak dalam hal kesejahteraan dan rezki serta rentetan kenikmatan lain berkat kedua karunia itu, meski ia dalam kondisi apapun. Dengan itu sirnalah keguncangan, kegundahan dan keruwetannya, dan bertambahlan kegembiraan dan kesukaannya terhadap ni’mat-ni’mat Allah, yang ia dalam hal ini mengungguli orang-orang yang lain dibawahnya.

Setiap kali seorang hamba merenungi ni’mat-ni’mat Allah yang zhahir maupun yang batin, baik itu dari sisi kehidupan religi maupun duniawinya, ia akan melihat Allah Tuhannya telah mengarunianinya karunia yang banyak dan telah menangkis untuknya berbagai keburukan. Tidak diragukan, bahwa hal itu dapat menangkis kegundahan dan keruwetan, disamping membuahkan kegembiraan dan kesukacitaan.



[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 26-29, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]

Kamis, 20 November 2014

MENYIBUKKAN DIRI DENGAN MELAKUKAN SUATU PEKERJAAN ATAU MENGKAJI SUATU ILMU YANG BERMANFAAT


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Diantara sarana untuk menangkis kegelisahan yang ditimbulkan oleh ketegangan saraf dan kekalutan hati karena beberapa hal yang mengeruhkan pikiran adalah : Menyibukkan diri dengan melakukan suatu perkejaan atau mengkaji suatu ilmu yang bermanfaat.

Hal ini dapat membuat hati melupakan kekalutan dengan melupakan hal-hal yang mengguncangkannya itu. Bisa jadi ia, karenanya, dapat melupakan beberapa penyebab yang telah membuatnya gundah dan sedih. Dengan demikian jiwanya senang dan kesemangatannya tumbuh dan bertambah. Sarana ini pun bagi mu’min dan selain mu’min adalah sama. Hanya saja, orang mum’min berbeda dan unggul karena iman, keikhlasan dan keberharapannya kepada pahala Ilahi melalui ilmu yang dipelajari dan diajarkannya dan melalui perbuatan baik yang dikerjakannya. Jika perkerjaan itu berupa ibadah, maka ia melakukannya dengan semestinya sebagai ibadah. Jika pekerjaan itu berupa kesibukan kerja dalam urusan duniawi atau aktivitas keseharian yang bersifat duniawi, maka ia sisipkan pada pekerjaan itu niat yang benar dan tujuan agar pekerjaan itu menjadi penolong baginya untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Hal ini memiliki pengaruh yang efektif untuk menangkis kegundahan, kesedihan dan kesusahan.

Berapa banyak orang yang terkena keguncangan dan kekalutan batin, lalu terjangkiti berbagai penyakit. Ternyata terapinya yang manjur adalah ‘melupakan penyebab yang membuat jiwanya kalut dan guncang, dan menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan dari berbagai tugasnya’. Seyogianya kesibukan yang ditanganinya itu adalah hal-hal yang disenangi dan digandrungi jiwa. Karena, hal itu lebih mengacu untuk terwujudnya tujuan yang bermanfaat itu. Wallahu A’lam.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 22-26, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabai Jakarta]


Rabu, 19 November 2014

MENSYUKURI BERBAGAI NI’MAT ALLAH


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Begitu juga, menyebut-nyebut aneka ni’mat Allah yang zhahir maupun yang bathin adalah diantara sarana menuju kelapangan dan ketentraman hati. Karena, mengetahui dan menyebut-nyebut ni’mat itu menjadi salah satu sebab yang dengan itu Allah menangkis kegelisahan dan kegundahan.

Seorang hamba dianjurkan untuk bersyukur. Syukur itu adalah tingkatan yang paling tingggi dan paling luhur. Sampai-sampai sekalipun hamba itu dalam keadaan mengalami derita kefakiran atau sakit ataupun cobaan lainnya, karena, jika ni’mat-ni’mat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya –yang hal itu tidak dapat dihitung- ia bandingkan dengan cobaan yang menimpanya, maka cobaan itu bukanlah apa-apa dibanding ni’mat-ni’mat lain.

Bahkan jika Allah menguji seorang hamba dengan satu cobaan atau musibah, lalu ia menunaikan kewajiban bersabar, ridha dan pasrah dalam mengarungi cobaan itu, niscaya entenglah tekanan cobaan itu dan ringanlah bebannya. Disamping itu, perenungan seorang hamba pada balasan dan pahala Ilahi dibalik cobaan itu dan keberhambaannya kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban bersabar dan ridha, semua itu akan dapat mengubah hal yang pahit menjadi manis. Dengan itu, manisnya pahala di balik cobaan itu justeru akan membuatnya melupakan pahitnya bersabar karenanya.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 22-26, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]

Selasa, 18 November 2014

MEMPERBANYAK DZIKIR KEPADA ALLAH


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Diantara sarana yang paling besar untuk kelapangan hati ialah memperbanyak berdzikir kepada Allah. Berdzikir ini memiliki pengaruh yang mengagumkan bagi kelapangan dan ketentraman hati dan hilangnya kegelisahan dan kegundahan. Allah berfirman.

“Artinya : Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati menjadi tenteram’ [Ar-Ra’d : 28]

Maka, berdizikir kepada Allah memiliki pengaruh yang agung untuk mewujudkan maksud ini, oleh sebab keistimewaan dzikir itu sendiri dan oleh sebab dianugrahkannya balasan dan pahala bagi seorang hamba lantaran dzikirnya itu.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 22-26, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Senin, 17 November 2014

MEMOHON PEMBENAHAN ILAHI DALAM SEGALA URUSAN


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Hal yang paling bermanfaat dalam meniti peristiwa di masa mendatang adalah mengamalkan do’a yang diamalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Ya Allah, Perbaikilah kehidupan religiku, yang ia adalah benteng bagi segala urusanku. Perbaikai urusan duniawiku yang padanya kehidupanku. Perbaikilah akhiratku, yang kepadanya tempatku kembali. Jadikanlah hidup ini sebagai lahan uapayaku menambah segala kebajikan, dan jadikanlah mati sebagai titik henti bagiku dari segala keburukan” [Muslim, Shahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr Wad-Du’a wat-Taubah wal Istighfar, bab At-Ta’awwudz min Syarri Ma’ Amila wa Min Syarri Malam Ya’mal]

Juga do’a beliau.

“Artinya : Ya Allah, hanya RahmatMu jualah yang kuharap. Karenanya titipkan diriku pada diriku walaupun sekejap mata, perbaikilah keadaanku seluruhnya Tiada Tuhan Yang Haq disembah kecuali Engkau” [Hadits Riwayat Abu Dawud dengan sanad Shahih] [1]

Jika bibir seorang hamba mengucapkan do’a ini –yang mengandung kebaikan masa depan bagi nilai religinya maupun urusan duniawinya- dengan hati yang memusat dan niat yang benar, seiring berupaya merealisasikan hal itu dengan berbuat, niscaya Allah akan mewujudkan apa yang ia panjatkan dalam do’anya dan yang ia harapkan serta yang ia upayakan itu menjadi realita, dan kegelisahannya pun akan berubah menjadi kegembiraan dan kesukacitaan


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 26-29, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]
_________
Foote Note
[1] Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Al-Fath Ar-Rabbani Li Tartibi Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani, Kitab Al-Adzkar Wad-Da’wat, bab Ma Yuqalu Fis-Shabah Wal Masa. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan At-Thabrani, ia nyatakan sanadnya Hasan]

Minggu, 16 November 2014

JANGAN MUDAH TERGUNCANG OLEH BAYANGAN BURUK


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Di antara terapi yang paling hebat untuk penyakit syaraf hati, bahkan juga penyakit tubuh, adalah ketahanan dan kekuatan hati serta tidak mudah terguncang atau larut oleh bayang-bayang atau khayalan-khayalan buruk yang dipengaruhi oleh pikiran buruk. Karena, bila mana manusia takluk kepada khayalan-khayalan buruk dan hatinya mudah larut oleh pengaruh-pengaruh emosional yang berupa : rasa takut akan teridapnya penyakit atau semacamnya, mudah marah ataupun terganggunya pikiran oleh hal-hal yang memedihkan perasaaannya, dan membayangkan akan terjadinya bencana ataupun akan hilangnya segala yang disenanginya, kegundahan, penyakit dalam maupun luar dan rusaknya syaraf, yang hal itu mempunyai berbagai efek buruk, yang semua orang menyaksikan sendiri bahayanya yang banyak.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 29-35, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Sabtu, 15 November 2014

MEMANDANG RINGAN SEGALA COBAAN


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Diantara sarana yang paling bermanfaat untuk sirnanya keguncangan dan kegundahan manakala seorang hamba tertimpa aneka bencana adalah hendaknya ia berupaya memandang dan menjadikannya ringan. Yaitu, dengan mengandaikan atau membayangkan kemungkinan yang lebih buruk dari yang telah terjadi, dan ia kuatkan hatinya dalam menghadapinya. Jika ia lakukan itu, hendaknya ia berupaya, sejauh kemungkinanm untuk meringankan apa yang mungkin diringankan . Maka, dengan penguatan hati dan upaya yang bermanfaat semacam ini akan hilanglah kegelisahan dan kegundahannya, dan berganti menjadi upaya keras untuk meraih berbagai hal yang bermanfaat dan menangkis berbagai madharat yang menimpa hamba.

Lalu, jika ia terhampiri beberapa penyebab ketakutan, penyebab sakit, penyebab kemiskinan dan ketaktercapainya aneka hal yang disenanginya, hendaklah menghadapinya dengan tenang dan menguatkan hati dalam menanggung derita cobaan akan meringankannya dan menghilangkan tekanannya. Terutama jika ia menyibukkan dirinya untuk menangkis cobaan itu sebatas kemampuannya. Dengan itu, menyatulah dalam dirinya tekad mengukuhkan batin seiring berupaya yang bermanfaat, yang hal itu akan membuatnya tidak kalut oleh berbagai musibah. Ia tekan dirinya agar memperbaharui kekuatannya untuk melawan berbagai cobaan dan bencana, seiring bersandar dan percaya penuh kepada Allah. Tidak diragukan, bahwa upaya-upaya ini memiliki manfaat yang sangat agung untuk terwujudnya suatu kegembiraan dan kelapangan dada, di samping ia pun terus berharap pahala, baik didunia maupun di akhirat. Hal ini sudah dicoba dan disaksikan keberhasilannya. Bukti-bukti keberhasilannya bagi mereka yang telah mecobanya banyak sekali.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 29-35, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Jumat, 14 November 2014

MELUPAKAN COBAAN YANG TELAH LAMPAU


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Diantara sarana penyebab lahirnya kegembiraan dan sirnanya berbagai kegundahan dan keruwetan adalah berupaya keras menyingkirkan penyebab kegundahan itu dan meraih berbagai sarana yang dapat membuahkan kegembiraan. Yaitu dengan melupakan cobaan-cobaan yang telah lampau yang tidak mungkin diputar ulang, dan menyadari bahwa kekalutan hati dan memikirkan hal itu adalah suatu tindakan sia-sia dan tidak dibenarkan oleh akal yang sehat, dan bahwasanya memikirkan hal yang semacam itu adalah suatu kebohongan dan kegilaan.

Jadi ia harus menekankan agar tidak memikirkan cobaan masa lalu itu. Juga agar ia menekankan hatinya agar tidak gelisah atau guncang menghadapi masa yang akan datang, yang dibayangkan akan menghadapi kemiskinan atau kekhawatiran atau bayang-bayang masa depan buruk yang lain. Hendaknya ia mengetahui, bahwa segala peristiwa dimasa mendatang, baik itu keberuntungan atau keburukan, harapan baik atau derita, adalah tidak dapat diketahui, dan bahwasanya itu semua di tangan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sedang ditangan hamba tiada lain adalah usaha meraih keberuntungan dan menangkis keburukan di masa mendatang itu. Disamping itu hendaknya seorang hamba mengetahui, jika ia memalingkan pikirannya dari bayang-bayang kegelisahan masa depan dan bertawaqal kepada Allah untuk membenahinya serta percaya penuh kepadaNya saat melakukan itu semua, niscaya hatinya akan tenteram, kondisinya akan membaik dan akan sirnalah kegundahan maupun keguncangannya itu.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 26-29, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Kamis, 13 November 2014

YAKINLAH, BAHWA COBAAN ITU KECIL DIBANDING BESARNYA KARUNIA.


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Demikian halnya, jika ia tertimpa atau khawatir tertimpa cobaan atau hal yang tidak diinginkannya, seyogianya ia membandingkan ni’mat-ni’mat yang masih melekat padanya, baik di sisi kehidupan religi atau duniawi, dengan cobaan-cobaan yang menimpanya itu. Maka, saat membandingkan antara keduanya itu, akan nyata betapa banyaknya ni’mat yang dirasakannya dan betapa kecilnya cobaan yang menimpanya.

Begitu juga, seyogianya ia membandingkan bahaya yang dikhawatiri akan terjadinya itu dengan banyaknya peluang kemungkinan terhindar darinya. Maka, janganlah ia membiarkan kemungkinan yang lemah tadi mengalahkan banyaknya kemungkinan yang kuat itu. Dengan ini, akan sirnalah kegundahan dan kekhawatirannya. Hendaknya ia pun memperhitungkan kemungkinan terbesar yang dimungkinkan menimpanya. Lalu, ia kuatkan hatinya untuk menghadapinya kalaupun terjadi, dan berupaya untuk mencegah yang belum terjadi dan menangkis atau meringankan cobaan yang terjadi.



[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Rabu, 12 November 2014

MASA BAHAGIA YANG PENDEK ITU, JANGANLAH ENGKAU PENDEKKAN LAGI DENGAN KEGUNDAHAN KELARUTAN DALAM KEKERUHAN PIKIRAN.


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Orang yang bijak mengetahui bahwa hidupnya yang sehat dan benar adalah hidup yang penuh dengan kebahagiaan dan ketentraman, dan bahwasanya itu pendek sekali. Maka, tidaklah sepatutnya ia memendekkannya lagi dengan kegundahan dan kelarutan bersama kekeruhan pikiran. Karena, hal itu bertentangan dengan hidup sehat dan benar. Maka orang yang bijak sangat menghemat hidupnya, jangan sampai hari-harinya hilang begitu saja dirampas kegundahan dan kekeruhan pikiran.

Dalam hal ini tidak ada bedanya antara orang-orang yang taat dan orang yang jahat. Hanya saja, dalam mewujudkan kehidupan sehat bahagia ini, orang mu’min memiliki nilai lebih dan perolehan lebih di sisi manfaat duniawi maupun ukhrawi.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Selasa, 11 November 2014

KONSENTRASI UNTUK MENGHADAPI HARI INI


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Diantara sarana yang dapat menangkis kesedihan dan keguncangan hati adalah terputusnya pikiran sepenuhnya untuk memberikan perhatian kepada pekerjaan hari ini yang sedang dihadapinya dan menghentikan pikiran dari menoleh jauh ke waktu mendatang dari kesedihan menengok masa lampau. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari al-hamm (kegundahan) dan al-huzn (kesedihan) [1]. Al-huzn adalah kesedihan terhadap perkara-perkara yang telah lampau yang tidak mungkin diputar ulang ataupun di ralat. Sedangkan al-hamm : adalah kegundahan yang terjadi disebabkan oleh rasa takut dan khawatir terhadap sesuatu yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Jadi, hendaknya seorang hamba itu menjadi ‘putera harinya’ yakni ; menjadi manusia terbaik dalam menyongsong harinya yang sedang dihadapinya dan sekaligus mampu mengkonsentrasikan keseriusan dan kesungguhannya untuk memperbaiki hari dan detik yang sedang dihadapinya itu. Karena, pemusatan hati untuk berbuat demikian akan menuntutnya untuk mengoptimalkan pekerjaan, dan iapun dapat terhibur dengannya dari kegundahan dan kesedihan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan do’a atau mengajari umatnya untuk mengamalkan suatu do’a, beliau menganjurkan –seiring memohon dan mengharap pertolongan dan karunia Allah- agar mereka serius dan sungguh-sungguh dalam melakukan apa yang menjadi sebab terwujudnya harapannya itu dan menghindari apa yang menjadi sebab terhalangnya. Karena, do’a itu bergandeng dengan perbuatan.

Maka seorang hamba harus bersungguh-sungguh untuk meraih apa yang bermanfaat baginya dalam kehidupan religinya ataupun duniawinya dan memohon kepada Allah keberhasilan maksud dan tujuannya, seiring memohon pertolongan kepadaNya untuk itu, sebagaimana apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Berupaya keraslah untuk mencapai apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah serta janganlah kamu lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata : Andaikan aku berbuat demikian tentu akan terjadi demikian dan demikian. Akan tetapi katakanlah : Allah telah mentaqdirkan (ini). Allah melakukan apa yang dikehendakiNya. Karena, kata “andaikan” membukakan pintu perbuatan syetan” [Hadits Riwayat Muslim dalam shahihnya]

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memadukan antara dua hal. Yaitu antara perintah berupaya keras untuk mencapai hal-hal yang bermanfaat dalam berbagai kondisi, seiring memohon pertolongan kepada Allah serta tidak tunduk mengalah kepada sikap lemah, yang ia adalah sikap malas yang membahayakan, dan antara sikap pasrah kepada Allah dalam hal-hal yang telah lampau dan telah terjadi seiring meniti dengan mata hati terhadap qadha’ dan taqdir Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi segala kejadian dua bagian :

Bagian pertama : Adalah hal yang dimungkinkan seorang hamba berupaya meraihnya atau meraih yang mungkin darinya, atau hal dimungkinkan ia menangkisnya atau meringankannya. Disini seorang hamba harus memunculkan daya upaya seiring memohon pertolongan kepada Allah, sesembahannya. Sedangkan.

Bagian kedua : Adalah hal yang tidak dimungkinkan ia melakukan itu semua. Di sini seorang hamba harus tenang, ridha dan pasrah.

Tidak diragukan, bahwa berpedoman kepada prinsip ini dengan baik adalah merupakan sarana menuju kesenangan hati dan hilangnya kegelisahan maupun kegundahan.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 22-26, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabai Jakarta]
_________
Foote Note.
[1] Yaitu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim


Senin, 10 November 2014

MENATA HATI UNTUK MENGHARAP PAHALA ILAHI DALAM BERBUAT KEBAJIKAN.


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Diantara sarana yang paling bermanfaat untuk mengusir kegundahan adalah hendaknya anda menata hati untuk tidak meminta ucapan terima kasih atau imbalan kecuali dari Allah. Jika anda berbuat baik untuk orang yang mempunyai atau yang tidak mempunyai hak atas diri anda, sadarilah bahwa itu adalah hubungan ‘ubudiyyah anda dengan Allah. Karenanya, janganlah anda menaruh perhatian anda pada balasan terima kasih orang yang anda beri suatu jasa atau pemberian itu. Sebagaimana firman Allah dalam menceritakan sikap para hambaNya yang pilihan.

“Artinya : Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” [Al-Insan : 9]

Prinsip ini lebih ditekankan dalam hubungan anda dengan keluarga, anak-anak dan orang-orang yang jalinan ikatan anda dengan mereka kuat. Maka, jika anda kuatkan hati anda untuk membuang jauh dari hati anda tindak buruk dari mereka, berarti anda telah membuat orang tenteram (tidak terganggu anda) dan sekaligus anda pun tenteram.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Minggu, 09 November 2014

ARAHKAN PIKIRAN KE SESUATU YANG BERMANFAAT DI SISI KEHIDUPAN RELIGI MAUPUN DUNIAWI.


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Ketahuilah, bahwa hidup anda itu mengikuti alur pikiran anda. Jika pikiran-pikiran anda itu mengarah kepada hal-hal yang bermanfaat bagi anda di sisi kehidupan religi maupun duniawi, maka kehidupan anda adalah kehidupan yang indah lagi bahagia. Namun, jika tidak demikian, maka yang terjadi adalah sebaliknya.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Sabtu, 08 November 2014

JANGAN TERPANCING EMOSI OLEH TUTUR KATA BURUK SESEORANG YANG DIARAHKAN KEPADA ANDA


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Diantara perkara yang bermanfaat adalah hendaknya anda mengerti, bahwa tindakan menyakiti yang dilakukan orang kepada anda, khususnya dengan kata-kata yang buruk, tidaklah membahayakan anda, bahkan justeru membahayakan diri mereka sendiri. Kecuali, jika anda sibukkan diri anda untuk terus memikirkan tindakan mereka yang menyakiti itu dan anda izinkan ia untuk menguasai perasaan dan emosi anda. Maka, saat itulah akan membahayakan anda, sebagaimana membahayakan mereka juga. Namun, jika anda anggap angin lalu, tidaklah hal itu membahayakan anda sedikitpun.



[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Jumat, 07 November 2014

PANDAI-PANDAILAH MEMILIH DAN MEMILAH PEKERJAAN


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Seyogiayanya anda memilih yang terpenting dari sekian pekerjaan yang bermanfaat, lalu yang berikutnya dan berikutnya, sesuai urutan nilai kepentingannya. Juga, hendaklah anda memilah mana yang dicenderungi dan sangat diminati oleh hati anda. Karena, hal sebaliknya akan membuahkan kebosanan, menurunnya semangat dan keruhnya pikiran. Jadikanlah pemikiran yang benar dan bermusyawarah sebagai penolong anda untuk itu. Maka, tidak akan menyesal seseorang yang meminta pendapat orang bijak.

Pelajarilah dengan cermat apa yang hendak anda lakukan. Jika anda telah yakin akan kemaslahatan dan bertekad kuat untuk melakukannya, bertawaqallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawaqal.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Kamis, 06 November 2014

SELESAIKAN PEKERJAAN TEPAT WAKTU


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy

Di antara hal yang bermanfaat ialah menyelesaikan pekerjaan yang sedang ditangani dan berkosentrasi menghadapi yang akan ditangani. Karena, jika pekerjaan itu tidak anda selesaikan, akan tertumpuklah di depan anda sisa pekerjaan yang lalu ditambah pekerjaan berikutnya, dan beban pun akan menjadi berat. Maka, jika anda tentukan segala sesuatu tepat waktu, niscaya anda dapat menghadapi hal-hal yang akan datang dengan pikiran yang optimal dan penanganan yang optimal pula.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Rabu, 05 November 2014

JADIKANLAH KETENANGAN BATIN DAN PEMUSATAN JIWA SEBAGAI PEMBANTU ANDA MENANGANI PEKERJAAN PENTING.


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Pusatkan perhatian anda kepada hal-hal yang bermanfaat, berbuatlah untuk merealisasikannya, dan janganlah menoleh ke hal-hal yang membahayakan atau merugikan, agar dengan itu anda dapat melupakan hal-hal yang menyebabkan kegundahan dan kesedihan. Jadikanlah ketenangan batin dan pemusatan jiwa sebagai pembantu anda untuk menangani pekerjaan-pekerjaan penting.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Selasa, 04 November 2014

CIPTAKAN SUASANA JERNIH DAN MANIS DI BALIK KEKERUHAN


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy


Di balik suasana-suasana kekeruhan, hendaknya anda dapat menciptakan suasana yang jernih dan manis. Dengan demikian, jernihnya kelezatan dan kenikmatan hidup ini akan bertambah dan suasana-suasana yang keruhpun akan sirna.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Senin, 03 November 2014

MERAIH DAN MELAKUKAN AL-FADHA’IL (TINDAK-TINDAK UTAMA)


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Di antara sarana yang dapat membawa ketentraman adalah meraih dan melakukan al-fadha’il (tindak-tindak utama berupa apapun). Lakukan itu seirama dorongan batin, tanpa mengada-ada yang justeru membuat anda mengeluh dan turun tangga, gagal meraih keutamaan itu, karena anda telah melalui jalan yang berbelok.

Ini adalah suatu hikmah perjalanan.



[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]


Minggu, 02 November 2014

BERSIKAP ADIL DAN BIJAKSANA DALAM BERGAUL


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy




Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Janganlah seorang mu’min lelaki membenci seorang wanita mu’minah. Karena, kalaupun ia tidak menyenangi suatu karakter yang ada padanya, tentu ia menyenangi karakter lain yang ada padanya” [1]

Hadits ini mengandung dua hikmah yang agung.

Pertama.
Arahan untuk bergaul dengan isteri, kerabat dekat, teman, orang yang bekerja sama dengan anda, dan semua yang ada keterkaitan dan hubungan antara anda dan dia. Yaitu, seyogianya anda tata batin anda dalam bergaul dengannya, bahwa pasti ia mempunyai cela atau kekurangan atau hal lain yang tidak anda sukai. Jika anda dapati hal yang demikian, bandingkanlah itu dengan kuatnya pertalian dan kesinambungan cinta antara anda dan dia yang wajib atau seyogianya anda bina, dengan mengingat sisi-sisi kebaikan, maksud-maksud baik yang bersifat umum atau khusus yang ada pada dirinya. Dengan menutup mata dari sisi-sisi keburukkan dan memandang sisi kebaikan, persahabatan dan tali hubungan akan langgeng dan ketenteraman batin akan terwujud bagi anda.

Kedua.
Yaitu hilangnya kegelisahan maupun keguncangan,langgengnya ketulusan cinta, keberlanjutan menunaikan tuntunan bergaul yang bersifat wajib maupun sunnah, dan terwujudnya ketentraman batin antara kedua belah pihak.
Baransiapa yang tidak mengambil pelajaran dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, tetapi bahkan ia melakukan sebaliknya, yaitu dengan memperhatikan sisi-sisi keburukan dan membutakan mata dari melihat sisi-sisi kebaikan, maka pasti ia akan guncang dan gelisah, dan pasti tidaklah mulus cinta yang ada antara dia dan orang yang sudah terjalin hubungan dengannya. Disamping itu, sejumlah hak maupun kewajiban yang harus dipelihara oleh masing-masing dari keduanyapun akan putus.

Banyak tokoh atau pahlawan yang mampu menguatkan hatinya untuk sabar dan tenang saat terjadinya bencana atau malapetaka besar. Namun, di saat menghadapi perkara-perkara remeh dan sederhana, maka justeru guncang, dan kepolosan hatinya tidak jernih lagi. Sebabnya adalah karena mereka dapat menguatkan hati dalam menghadapi perkara-perkara besar,namun saat menghadapi perkara-perkara kecil, justeru mereka biarkan diri mereka tanpa kontrol, sehingga membahayakan mereka dan berefek buruk pada ketenangan mereka.

Orang yang berkepribadian kokoh mampu menguatkan hatinya untuk menghadapi perkara kecil maupun besar. Ia memohon pertolongan Allah untuk menghadapinya dan memohon agar Allah tidak menitipkan dirinya kepada dirinya walau sekejap mata. Maka, di saat itulah perkara kecil menjadi mudah baginya, sebagaimana perkara besar pun menjadi mudah. Dan, ia tetap berjiwa tenteram dan berhati tenang dan nyaman.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]
_________
Foote Note
[1]. Hadits Riwayat Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahih Muslim, Kitab Ar-Radha bab Al-Washiyyah bin Nisa'


Sabtu, 01 November 2014

BERPRILAKU BAIK MELALUI UCAPAN, PERBUATAN, DAN SEGALA BENTUK AL-MA’RUF


Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy




Diantara sarana untuk menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kegelisahan adalah : Berprilaku baik kepada orang lain melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma’ruf (kebajikan). Semua itu adalah kebaikan untuk diri dan tindak kebajikan untuk orang lain. Lantaran kebajikan itu dan sesuai dengan kadar kebajikan itu jua, Allah menangkis segala kegundahan dan kesedihan, baik untuk orang yang berprilaku baik atau untuk orang yang jahat. Hanya saja, yang diperoleh orang mu’min lebih sempurna. Ia unggul karena kebaikannya timbul dari keikhlasan dan keberharapan hanya pada pahala Allah. Karena ia mengharapkan yang baik, maka Allah memudahkan baginya berprilaku baik. Dan, karena ikhlas dan hanya mengaharap pahala dari Allah, maka Allah menangkis untuknya segala cobaan berat. Allah berfirman.

“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan antara mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau melakukan kebajikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami mengaruniakan kepadanya pahala yang besar” [An-Nisaa : 114]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa itu semua adalah suatu kebaikan yang timbul dari pelakunya. Sedangkan suatu kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan menangkis keburukan. Dan bahwasanya orang mu’min yang hanya berharap pahala Allah akan dianugrahi olehNya pahala yang agung. Termasuk pahala agung itu adalah hilangnya kegundahan, kesedihan, keruwetan hati dan semacamnya.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia hal 11-22, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabai Jakarta]


Jumat, 31 Oktober 2014

BERIMAN DAN BERAMAL SHALIH DENGAN SEBENARNYA ( 2 )

                         Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'diy



Semua itu dapat dilihat melalui pengalaman.

Satu Gambaran.
Jika anda mengamati dan menilai keadaan orang pada umumnya dengan barometer iman dan amal shaleh, maka anda akan melihat perbedaan jauh antara orang mu’min yang berbuat sesuai tuntunan imannya dan yang tidak demikian. Hal itu karena Islam sangat menganjurkan qana’ah (menerima dengan penuh kerelaan) terhadap rezki dari Allah dan terhadap ragam karunia dan kemurahanNya yang diberikanNya kepada para hambaNya.

Orang mu’min jika diuji dengan datangnya penyakit atau kefakiran atau semacamnya –yang setiap orang bisa menjadi sasaran cobaan itu-, maka dengan iman dan jiwa qana’ah serta ridha terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya, anda dapati ia berhati sejuk dan bermata ceria, tidak menuntut sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya. Di segi materi, ia memandang kepada yang lebih rendah, tidak memandang kepada yang lebih atas. Bisa jadi, kegembiraan, kesenangan dan ketentraman batinnya melebihi orang yang meraih semua keinginan duniawi, jika orang itu tidak dikarunianya jiwa qanaah.

Kemudian, anda dapati orang yang tidak berbuat sesuai dengan tuntunan iman, jik ia diuji dengan sedikit kefakiran saja, atau tidak diperolehnya keinginan-keinginan duniawinya, maka anda dapati ia sangat hancur dan sengsara.

Gambaran Lain.
Jika terjadi pada seseorang hal-hal yang menakutkan dan ia tertimpa malapetaka dan bencana, maka orang yang benar imannya akan anda dapati ia berhati teguh, berjiwa tenteram lagi tegar menangani dan menyetir sesuatu yang menimpanya dengan pikiran, ucapan dan tindakan yang dimampuinya. Ia kukuhkan jiwanya untuk menghadapi bencana yang menimpa itu. Sikap semacam ini adalah sikap yang menentramkan dan mengukukuhkan hati seseorang.

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki iman, jika terjadi peristiwa-peristiwa yang menakutkan, anda dapati ia guncang hatinya dalam menghadapinya, syaraf-syaraf tegang, dan pikirannya tercerai-berai. Rasa kekhawatiran dan ketakutan merasuk jiwanya. Rasa ketakutan dari ancaman luar dan seribu gejolak di dalam telah tertumpuk menyatu dalam dirinya, yang tidak mungkin digambarkan. Manusia semacam ini, jika tidak memiliki beberapa sarana terapi alami yang hal itu membutuhkan latihan banyak, maka ketahanan dirinya akan luluh dan syaraf-syarafnya pun akan tegang. Itu semua karena ia tidak memiliki iman yang dapat membawanya untuk bersabar, terutama dalam situasi sulit dan kondisi yang menyedihkan lagi mengguncang.

Orang baik dan orang jahat, orang mu’min dan orang kafir adalah sama di sisi keberanian yang diperoleh melalui upaya atau latihan dan sisi naluri (insting) yang berfungsi melipur dan menurunkan volume rasa takut. Akan tetapi, orang mu’min, dengan kekuatan imannya, kesabarannya, kepasrahan dan kebersandarannya kepada Allah serta keberharapannya pada pahalaNya, ia unggul dengan memiliki nilai-nilai lebih yang meningkatkan keberaniannya, meringankan tekanan rasa takutnya dan membuatnya memandang kecil segala kesulitan yang dihadapinya.

Allah berfirman.

“Artinya : Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula) sebagaimana apa yang kamu derita. Sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan” [2] [An-Nisaa : 104]

Para mum’min danugrahi ma’unah (pertolongan), ma’iyyah (rasa Kebersamaan) dan madad (bantuan) Allah yang khusus, yang dapat menyirnakan segala ketakutan.

Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama [3] orang-orang yang bersabar” [Al-Anfal : 46]


[Disalin dari kitab Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penulis Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma'ruf, Diterbitkan Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]
_________
Foote Note
[3] Yakni : dengan mengaruniakan pertolongan, kemenangan dan dukunganNya (Taisiru-l-Mannan)

Kamis, 30 Oktober 2014

Memerangi Hawa Nafsu

Sungguh hamba itu telah dikaruniai akal dan hawa nafsu. Akal itu sebagai hakim terhadap hawa nafsu karena hawa nafsu kecondongannya hanya kepada yang tercela. Menuruti hawa nafsu tidaklah tercela kecuali ketika menyelisihi akal dan syar’i. Apabila hawa nafsu menyelishi akal maka akal akan menghamba pada hawa nafsu dan menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Alloh berfirman :

(أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “
(Al Jatsiyah: 23)

Dan tidak hanya seorang dari ulama salaf yang telah berkata:
“Tidak ada sesembahan yang lebih jelek dibawah kolong langit selain hawa nafsu (yang diikuti).”

Telah berkata Al Hasan bin ‘Ali al Mathwa’i:

“Berhala setiap manusia itu adalah hawa nafsunya apabila manusia mampu menghancurkannya dengan menyelisihinya maka dia berhak menyandang nama pemuda “

Dan telah berkata Bisyr Al Hafi:
“Bencana itu semuanya pada hawa nafsu yang diikuti dan kebaikan itu semuanya dengan menyelisihi hawa nafsu”

Allah berfirman:

(فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ)

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Qoshosh: 50)

Rosululloh ‘Alaihisholatu Wassalam bersabda :

ثلاث مهلكات هوى متبع و شح مطاع و اعجاب المرئ بنفسه (اخرجه البزار و ابو نعيم حسنه الالباني)

“Tiga hal yang bisa membinasakan, yaitu hawa yang diikuti, kikir yang ditaati, dan pemenuhan hamba terhadap nafsunya”

Telah berkata ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa halaman 16:
“Ketahuilah sesungguhnya hawa nafsu itu menjadikan orangnya dalam banyak perkara, dia mengeluarkan dari daerah akal kepada daerah junun (kegilaan). Terkadang hawa nafsu menimpa orang berilmu sehingga mengeluarkan orangnya dari apa yang diperintah ilmunya dan terkadang menimpa orang zuhud sehingga menjadikan ia riya.”

Alloh menciptakan malaikat beserta akal tanpa syahwat. Alloh menciptakan hewan beserta syahwat tanpa akal dan Alloh menciptakan manusia beserta akal dan syahwat. Barangsiapa yang akalnya mampu mengalahkan syahwatnya maka dia lebih baik dari malaikat dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia lebih jelek dari hewan” (Miftah Darussa’adah: I/352).

Barangsiapa yang menginginkan jannah maka perangilah hawa nafsunya. Alloh berfirman:

(وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوی
(فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). “
An Naazi’at : 40

Apabila para nabi yang maksum diperingatkan dari bahaya hawa nafsu tentu pengikutnya sangat lebih berhak untuk diperingatkan dari bahaya mengikuti hawa nafsu. Maka janganlah kalian merasa aman dari bahaya seruan nafsumu.

::: Diterjemahkan secara bebas dari kitab Al Mu’min Adh Dho’if Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam hal. 29-30. Oleh Abu Umamah Abdurrohim Al Malanji dalam perjalanan Aden-Turki tanggal 14 Rojab 1435 H/13 Mei 2014 M.

Editor: Abu Dawud al Pasimiy

Sumber : WA SLN

Memerangi Hawa Nafsu

Sungguh hamba itu telah dikaruniai akal dan hawa nafsu. Akal itu sebagai hakim terhadap hawa nafsu karena hawa nafsu kecondongannya hanya kepada yang tercela. Menuruti hawa nafsu tidaklah tercela kecuali ketika menyelisihi akal dan syar’i. Apabila hawa nafsu menyelishi akal maka akal akan menghamba pada hawa nafsu dan menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Alloh berfirman :

(أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “
(Al Jatsiyah: 23)

Dan tidak hanya seorang dari ulama salaf yang telah berkata:
“Tidak ada sesembahan yang lebih jelek dibawah kolong langit selain hawa nafsu (yang diikuti).”

Telah berkata Al Hasan bin ‘Ali al Mathwa’i:

“Berhala setiap manusia itu adalah hawa nafsunya apabila manusia mampu menghancurkannya dengan menyelisihinya maka dia berhak menyandang nama pemuda “

Dan telah berkata Bisyr Al Hafi:
“Bencana itu semuanya pada hawa nafsu yang diikuti dan kebaikan itu semuanya dengan menyelisihi hawa nafsu”

Allah berfirman:

(فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ)

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Qoshosh: 50)

Rosululloh ‘Alaihisholatu Wassalam bersabda :

ثلاث مهلكات هوى متبع و شح مطاع و اعجاب المرئ بنفسه (اخرجه البزار و ابو نعيم حسنه الالباني)

“Tiga hal yang bisa membinasakan, yaitu hawa yang diikuti, kikir yang ditaati, dan pemenuhan hamba terhadap nafsunya”

Telah berkata ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa halaman 16:
“Ketahuilah sesungguhnya hawa nafsu itu menjadikan orangnya dalam banyak perkara, dia mengeluarkan dari daerah akal kepada daerah junun (kegilaan). Terkadang hawa nafsu menimpa orang berilmu sehingga mengeluarkan orangnya dari apa yang diperintah ilmunya dan terkadang menimpa orang zuhud sehingga menjadikan ia riya.”

Alloh menciptakan malaikat beserta akal tanpa syahwat. Alloh menciptakan hewan beserta syahwat tanpa akal dan Alloh menciptakan manusia beserta akal dan syahwat. Barangsiapa yang akalnya mampu mengalahkan syahwatnya maka dia lebih baik dari malaikat dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia lebih jelek dari hewan” (Miftah Darussa’adah: I/352).

Barangsiapa yang menginginkan jannah maka perangilah hawa nafsunya. Alloh berfirman:

(وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوی
(فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ)

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). “
An Naazi’at : 40

Apabila para nabi yang maksum diperingatkan dari bahaya hawa nafsu tentu pengikutnya sangat lebih berhak untuk diperingatkan dari bahaya mengikuti hawa nafsu. Maka janganlah kalian merasa aman dari bahaya seruan nafsumu.

::: Diterjemahkan secara bebas dari kitab Al Mu’min Adh Dho’if Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam hal. 29-30. Oleh Abu Umamah Abdurrohim Al Malanji dalam perjalanan Aden-Turki tanggal 14 Rojab 1435 H/13 Mei 2014 M.

Editor: Abu Dawud al Pasimiy

Sumber : WA SLN

Rabu, 29 Oktober 2014

Godaan Dunia dan Wanita

Abu Sa’id al-Khudri z, seorang sahabat yang mulia, berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةُ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Rasulullah n bersabda, “Sungguh dunia itu manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana yang kalian amalkan (apa perbuatan kalian). Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah dari para wanita karena ujian pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanitanya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengabarkan keadaan dunia dan sifatnya yang meluluhkan hati orang-orang yang memandang dan merasakannya. Kemudian Rasulullah n mengabarkan bahwa Allah l menjadikan dunia sebagai fitnah (ujian dan cobaan) bagi para hamba. Setelahnya, beliau n menyuruh kita menempuh sebab-sebab yang akan menjaga dan melindungi kita dari terjerumus ke dalam fitnahnya.

Pengabaran Rasulullah n bahwa dunia itu manis lagi hijau mencakup seluruh sifat dunia beserta apa yang ada di atasnya. Maka dari itu, dunia itu manis dalam hal rasanya, kelezatan, dan kesenangannya. Dunia itu hijau dalam hal keindahan dan kebagusannya yang tampak. Hal ini sebagaimana firman Allah l:

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat/kesenangan-kesenangan dunia berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas dan perak, demikian juga kuda-kuda yang ditambatkan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang….” (Ali Imran: 14)

“Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya.” (al-Kahfi: 7)
Kelezatan yang beraneka ragam dan warna ada di dunia. Demikian pula pemandangan yang memesona. Allah l menjadikan semua itu sebagai ujian dan cobaan dari-Nya. Dia l juga menjadikan para hamba turun-temurun menguasainya, generasi demi generasi, agar Dia melihat apa yang mereka lakukan di atasnya.

Siapa yang mengambil perhiasan dunia dan meletakkannya sesuai dengan hak atau tempat yang semestinya, serta menjadikan perhiasan itu sebagai pembantu untuk menunaikan ubudiyah (peribadatan kepada Allah l) sebagai tujuan penciptaannya, niscaya perhiasan dunia tersebut menjadi bekal baginya. Perhiasan dunia akan menjadi tunggangan menuju negeri yang lebih mulia dan lebih kekal daripada dunia. Dengan begitu, sempurnalah baginya kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.

Namun, siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya yang paling besar dan puncak ilmu serta keinginannya, padahal dia tidak akan diberi dari dunia ini selain sebatas apa yang telah ditetapkan baginya1, niscaya akhir kesudahannya adalah kesengsaraan. Dia tidak bisa menikmati kelezatan dan syahwat (kesenangan) dunia selain hanya dalam waktu yang singkat, karena dunia itu memang kelezatannya sedikit sedangkan kesedihannya panjang.

Segala macam kelezatan dunia adalah fitnah (godaan) dan ujian. Namun, fitnah (ujian) dunia yang paling besar dan paling dahsyat adalah wanita. Fitnah wanita sangatlah besar. Terjatuh ke dalam fitnah wanita sangatlah genting dan amat besar bahayanya karena wanita adalah umpan dan jeratan setan. Betapa banyak orang yang baik, sehat, dan merdeka yang diberi umpan para wanita oleh setan. Orang itu pun menjadi tawanan dan budak syahwatnya. Dia tergadai oleh dosanya (menjadi jaminan bagi dosanya). Sungguh sulit baginya untuk lepas dari fitnah tersebut. Dosanya itu adalah dosa akibat ulahnya sendiri karena tidak berhati-hati dan tidak menjaga diri dari bala tersebut. Jika dia menjaga dirinya dan berhati-hati dari fitnah wanita, tidak mencoba-coba masuk ke tempat-tempat masuknya tuduhan/prasangka, tidak menantang fitnah, disertai meminta pertolongan dengan berpegang teguh kepada Allah l, niscaya dia akan selamat dari fitnah ini dan terbebas dari ujian ini.

Karena demikian besarnya fitnah wanita, dalam hadits ini Nabi n sampai memberikan peringatan dengan secara khusus menyebutkan wanita dari sekian banyak fitnah dunia. Beliau n memberitakan apa yang terjadi pada umat sebelum kita (yang rusak karena wanita –pent.) karena hal itu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.

(Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, karya al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t, hlm. 187—188, hadits ke-78)

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana disebutkan oleh hadits Anas z, Rasulullah n bersabda:

مَنْ كاَنَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ؛ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah l akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam ash-Shahihah no. 949)

Sumber : http://asysyariah.com/godaan-dunia-dan-wanita/